Motivation
Two thumbs for agan BillyBoen
Welcome to Rizka's Headquarter !
Suatu hari, hiduplah seorang manusia di dalam gua yang sangat gelap. Gelap secara literal, nggak ada cahaya apa pun di dalam gua itu. Manusia ini nggak pernah liat cahaya sekali pun. Dari lahir. Tapi hidupnya bahagia. Nggak ada alasan baginya untuk nggak bahagia. Sejalan dengan : “You never miss what you never have”, manusia ini nggak pernah merindukan cahaya, karena ya, emang nggak pernah tau apa itu cahaya. Dunianya berubah ketika suatu saat…
…ia menemukan sekotak korek api.
Pertemuannya dengan korek api adalah pengalaman pertamanya dengan cahaya. It fascinates him a lot! Dalam sekejap ia yakin dalam hatinya, “Korek api adalah cahaya paling terang dalam hidupku” dan ia jatuh cinta padanya. Api-api korek tersebut nyaris nggak bisa dipake buat nerangin apa pun. Tapi buatnya cahaya tersebut adalah yang paling terang dalam hidupnya.
But it doesnt last long. Setiap saat ia ingin korek api bercahaya, semakin sedikit jumlah batang yang tersisa. Dan bila ia ingin korek api bercahaya lebih terang, ia harus menggunakan lebih dari satu batang korek api. Tak lama kemudian cahaya tersebut habis dan ia kembali ke dalam kegelapannya. Kegelapan yang sama yang dulu ia jalani selama bertahun-tahun. Tapi kegelapan kali ini rasanya beda. Rasanya…
Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.
Hari-hari kini berlalu dengan rasa benci.
“Kenapa korek api harus hadir dalam hidup gue?”
“Kenapa nggak biarin gue sendirian dalam kegelapan gue?”
“Kenapa kasih gue cahaya kalo cuma sesingkat itu?”
Until one day dia bertemu dengan lilin. Lilin lebih terang dari korek. Lilin bertahan jauh lebih lama dibanding korek. Dalam sekejap ia jatuh cinta pada lilin, cahaya paling terang dalam hidupnya.
Suatu hari ia berpikir, “Aku ingin lebih dekat lagi dengan lilin!” Maka ia membawa lilin berjalan-jalan ke dalam guanya. Tapi di tengah perjalanan, ia terkena tetesan cairan lilin yang panas sehingga kulitnya terluka. Ia marah. Ia kecewa. Manusia ini nggak bisa terima kenyataan bahwa memang begitulah sifat lilin. Dan ia pergi meninggalkan lilin tersebut. Kembali ke kegelapannya.
Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.
Hari-hari kini kembali berlalu dengan rasa benci.
“Kenapa lilin harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya kalo cuma buat sakitin gue?”
Hari-hari tersebut berakhir begitu ia bertemu dengan sebuah cahaya yang jauh lebih terang, sebuah obor. Obor lebih terang dari lilin. Obor bertahan jauh lebih lama dibanding lilin. Obor jauh lebih mudah dibawa-bawa dibanding lilin. Dan kali ini ia sudah belajar menerima sifat panas obor tersebut. Dalam sekejap ia jatuh cinta pada obor, cahaya paling terang dalam hidupnya.
Tapi lama-kelamaan cahaya obor semakin meredup. Obor butuh minyak untuk bisa tetap menyala terang. Jika tidak ada minyak yang bisa dibakar, maka kain dan kayunya sendirilah yang akan terbakar. Manusia ini tidak bisa terima kenyataan bahwa obor butuh minyak untuk bercahaya. Maka lalu ia pergi meninggalkan obor tersebut. Kembali ke kegelapannya.
Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.
Kembali ditemani rasa benci yang mulai terasa familiar.
“Kenapa obor harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya kalo akhirannya minta minyak sebagai balasan?”
“Cahaya itu hak semua orang! Hak gue! Sewajarnya kalo obor kasih gue cahaya.”
“Gue nggak butuh cahaya yang nggak tulus kayak gitu.”
Dan ia mengutuk setiap cahaya yang pernah datang dalam hidupnya.
“Adakah cahaya yang sejati dalam dunia ini?”
Ia pikir jawabannya tiba saat ia bertemu dengan sebuah cahaya yang luar biasa, sebuah api unggun. Api unggun jauh lebih besar dan terang dari semua yang pernah ia temui. Api unggun jauh lebih hangat dari semua yang pernah ia temui. Seisi gua terang dan hangat karena kehadirannya. Kali ini ia mengerti dan rela memberikan kayu agar api unggun bisa bercahaya lebih terang. Begitu banyak manusia gua lain berkumpul di sekitarnya dan mereka semua mendapat cahaya dan kehangatan yang sama persis – sama rata, tidak perduli di sebelah mana mereka duduk.
Ia jatuh cinta. “Inilah cahaya paling terang dan hangat dalam hidupku. Akhir dari pencarianku. Nggak mungkin ada yang lebih terang dari ini.” Ia menginginkan api unggun untuk dirinya sendiri. Ia ingin membawa api unggun masuk ke dalam guanya sendiri tapi api unggun tak ingin beranjak. Ia ingin menikmati api unggun sendiri, tapi manusia gua lainnya terlalu banyak untuk ia usir. Ia kelelahan dan akhirnya menyerah. Kembali ke kegelapan.
Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.
Kembali ditemani rasa benci yang kini sangat familiar.
“Kenapa api unggun harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya sebesar itu buat gue?”
“Kenapa dia harus sehangat itu sama gue?”
“Bukannya itu namanya memberi harapan? Ke banyak orang?”
“Gue juga butuh cahaya, gue butuh diperhatiin! Gue! Gue! Orang lain nggak usah karena hidup mereka lebih bahagia dari gue. GUE!”
Dan ia mengutuk setiap cahaya yang pernah datang dalam hidupnya. Plus setiap manusia gua yang dulu ikut mengerubungi api unggun bersamanya.
Kali ini hari-hari tanpa cahaya lebih panjang dari sebelumnya. Banyak cahaya mampir dalam kehidupannya tapi ia membuang mereka semua karena : cahaya-cahaya itu bukan cahaya yang paling terang dalam hidupnya. “Di mana cahaya paling terang dalam hidupku?” hanya itu yang ia tanyakan setiap hari. Suatu hari ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang radikal, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, sesuatu yang sangat ia benci dari dulu. Karena pikirnya, hidup gue udah berantakan, nggak mungkin bisa lebih berantakan lagi, jadi nggak ada salahnya.
Ia… keluar dari guanya.
Betapa ia terperanjat dan jantungnya berdegup kencang saat untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat cahaya yang baru. Semua manusia menikmati cahaya ini! Yang sangat terang! Yang sangat hangat! Yang berlangsung berjam-jam! Yang tidak menyakiti dirinya! Tanpa perlu minyak! Tak perlu dibawa ke mana-mana karena cahaya itu ada di mana-mana! Tidak ada yang membahas apakah cahayaku lebih terang dari cahayamu. Dan tidak ada yang memperebutkan cahaya itu karena semua menerimanya.
Cahaya itu adalah matahari.
Matahari sangat besar. Paling besar. Ia percaya tidak ada yang lebih besar dari matahari. Matahari sangat jauh. Begitu jauhnya hingga ia tak pernah tahu bentuk matahari itu. Tapi baginya itu tak masalah, karena ia bisa rasakan cahaya dan hangatnya. Ia jatuh cinta kepada matahari. Cinta yang jauh lebih kuat dari semua cinta yang pernah ia alami. Karena matahari adalah cahaya paling terang dalam hidupnya dan ia percaya tidak ada lagi cahaya yang lebih terang darinya.
Lalu malam tiba. Kegelapan menyapanya. Perasaan yang dulu familiar mengetuk pintunya.
Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.
Ia bertanya-tanya. Di mana cahaya itu? Yang paling besar? Yang paling hangat? Di mana? Aku tidak melihatnya! Hampir ia mengutuknya saat suatu ketika, seseorang melintas dan melihat ia meringkuk di dalam kegelapan.
Ia memberi si manusia gua sekotak korek api.
Lalu datang manusia lain memberi ia lilin. Dengan korek tadi ia menghidupkan lilin tersebut.
Lalu datang manusia lain memberi ia kain, kayu dan minyak. Dibantu cahaya lilin ia membuat obor.
Lalu datang manusia lain yang juga punya obor. Bersama-sama mereka mencari kayu di hutan. Ia lalu membuat api unggun.
Api unggunnya begitu besar, terang dan hangat. Begitu banyak orang lain yang mengutuk malam datang berkumpul mendekatinya untuk menghangatkan diri bersamanya. Dan mereka semua berbahagia. Bersama-sama mereka melewati malam yang tadi menjadi objek sumpah serapah, hingga siang tiba. Bersama-sama mereka saling belajar, saling mengajar sehingga mereka mengerti. Bahwa selalu ada siang sehabis malam dan akan selalu ada malam sehabis siang. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di malam berikutnya, menghangatkan diri bersama-sama hingga siang kembali tiba.
Menatapi abu dan arang api unggunnya, di tengah sinar fajar, manusia gua mengerti sebuah pelajaran tentang hidupnya. Untuk menghargai cahaya yang paling redup, temukanlah dahulu cahaya yang paling terang. Untuk menghargai kehangatan yang paling kecil, temukanlah dulu kehangatan yang paling besar.
_________________________________________________________________________
Copyright © 2009 Cogito Ergo Sum All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.