0

Petikan Manfaat

Posted by Rizka on 11.31
Memasuki minggu kedua ujian tengah semester 6. Besok giliran mata kuliah Customer Relation Management yang ujiannya berbentuk case study. Aku ingin sedikit bercerita tentang seorang anak kecil. Mungkin tepatnya bukan anak kecil lagi, karena ia seumuran dengan adikku yang kini sudah remaja, yang sedang bersiap-siap menghadapi ujian nasional SMP bulan mei mendatang.

Namanya Tami. Dulu, ketika ia masih satu sekolah dengan adikku, hampir setiap hari Tami datang dan bermain di rumah kami. Ada Tami, Ayu dan Rahma. Mereka bertiga tinggal di Panti Asuhan dekat rumah kami. Mereka mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di SMP yang sama dengan adikku selama satu tahun. Ayu adalah seorang anak yang berasal dari Tangerang, dan hidup di Panti Asuhan. Ibunya sedang berjuang menjemput rizki Allah dengan menjadi TKW di negeri Arab. Ibu dan ayahnya sudah berpisah semenjak ia kecil. Pendidikan agama Ayu sangatlah kental. Walaupun usianya jauh lebih muda dariku, aku banyak belajar darinya mengenai nilai-nilai Islam, sejarah Islam sampai cerita Habib-Habib yang sebelumnya aku sama sekali tidak tahu. Ayu juga bercerita bahwa setiap ada yang memberinya uang, selalu digunakan untuk membeli dvd kisah-kisah Islam. Sedangkan Rahma berasal dari Medan. Walaupun usianya masih belia, ia sudah merantau ke luar pulau demi mengenyam pendidikan.

Kali ini aku ingin bercerita tentang Tami. Setelah masa beasiswa untuk bersekolah di SMP yang sama dengan adikku habis, ia pindah ke sekolah yang letaknya cukup jauh dari Panti Asuhan dimana ia tinggal. Semenjak itu, ia tidak pernah lagi datang ke rumah kami. Kemarin siang ketika pulang dari kampus, aku melihatnya menggunakan seragam putih biru dan memakai ransel serta membawa sebuah map berjalan di tengah teriknya matahari. Aku melewatinya. Kemudian memutar balik untuk mengajaknya pulang bersama. Alhamdulillah saat itu aku sedang membawa motor. Aku menanyakan kabarnya, kabar Panti Asuhan dan bagaimana persiapannya menghadapi Ujian Nasional.

Teringat kembali cerita Tami waktu itu. Tami sudah berada di Panti Asuhan itu sedari kecil. Aku mendapatkan informasi dari Ayu dan Rahma bahwa Tami sudah dititipkan semenjak bayi. Tami tidak tahu siapa orang tua dan keluarganya hingga saat ini. Menurutku, Tami adalah seorang anak yang kuat dan tentunya mandiri. Walaupun memiliki kekurangan fisik, ia tetap bersemangat menjalani hidupnya. Aku juga teringat akan cerita pemilik Panti Asuhan dimana ia tinggal. Setelah pemiliknya dipanggil oleh Allah, Panti Asuhan tersebut diurus oleh istrinya yang kini sudah berusia senja. Ia sering bersikap kejam kepada anak-anak disana. Sebaiknya aku mengakhiri cerita mengenai orang yang dipanggil dengan sebutan 'Bu Haji' ini oleh anak-anak disana, karena tidak baik membicarakan aib orang bukan?

Dari Tami, aku mendapatkan sentilan sekali lagi. Betapa banyak, banyak sekali yang harus aku syukuri dalam hidup ini. Aku makin menganggap hinanya diri ini yang sudah banyak menuntut ini itu kepada orang tuaku. Aku harus belajar dari Tami. Walaupun harus berjalan jauh, ia tetap pergi ke sekolah dibawah terik matahari karena tidak memiliki ongkos untuk naik kendaraan umum. Sedangkan aku, yang sudah difasilitasi motor, ongkos naik bis, omprengan, kopaja dan busway, terkadang masih berat untuk pergi ke kampus.

Aku bertanya, apa yang biasa ia lakukan setelah pulang sekolah. Dan katanya, kalau tidak menyuci pakaian, ia membantu memasak untuk Panti Asuhan. Main ke luar pun tidak boleh. Nonton TV juga hanya diizinkan pada sabtu malam. Lagi. Aku semakin sadar betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Setelah mengantarnya pulang, aku juga kembali ke rumah. Setelah itu aku kembali memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuknya dan juga bagaimana nasibnya di masa depan. Semenjak itu, aku makin sering berdoa dan berjanji aku harus sukses agar dapat menjadi manfaat bagi orang-orang di sekelilingku termasuk Tami. Semakin mantap impianku untuk mendirikan sebuah yayasan berbasis sosial yang dapat menjadi wadah bagi anak-anak seperti Tami, dan juga anak-anak lain yang memerlukan uluran tangan. Tanggung jawabnya memang sangat besar, tapi  InsyaAllah Allah akan selalu membantu hamba-Nya. Karena aku yakin, Allah adalah penyempurna niat para hamba-Nya :)

0

Turn things around, and define yourself

Posted by Rizka on 06.27
Once labeled, "The Worlds Ugliest Woman," Lizzie decided to turn things around and create her own definitions of what she defines as beauty and happiness.


Almost in tears watching this inspirational video till the end. How do you define yourself. She only took the benefit from the syndrome, even she said that "cause they're great". Your life is in your hand. Choose this make really good, or choose this make really bad. Goals and success are define us, not from outer appereance. "All of those people who makes fun of me, who call me ugly, who call me monster, was makes myself better". She uses the negative comment to climb up her goals. Thank you Lizzie Velasquez for remembering me that Brave starts here.

0

Keep looking, don't settle

Posted by Rizka on 19.09

Yang belum ketemu sama passion-nya, coba baca blog salah satu penulis favorit saya. Click this :)




0

Win the island

Posted by Rizka on 08.50
Assalamualaikum bloggies J

Posting kedua di tahun 2014. Malam Sabtu, memasuki minggu kedua libur pergantian semester. Januari, 17 2014. Pukul lebih seperempat jam dari jam dua puluh tiga PM. Hanya iseng menulis di dalam kamar tercinta, berlindung dari hujan yang lebat. Baru saja kemarin melihat sebuah artikel yang berjudul; “Takut nulis karena takut dibilang bodoh.” Tulisan itu sedikit menyadarkanku bahwa menulis itu bebas. Tuangkan apa yang sedang kita pikirkan ke dalam untaian kata. Intinya, harap maklum jika tulisan di blog ini sangatlah random. Karena memang pada dasarnya, tulisan ini dibuat tidak ada unsur maksud dan misi tertentu :p

Terkadang yang kita butuhkan hanyalah FOKUS.

Ya benar. I really want to live in my dream soon, to take my mom, dad, sisters, grandmom and grandpa have some blissful life. And to achieve that, I already know what I must to do despite of so much obstacle to reach there. But still I am in young age. I want to explore a lot of experience before fly in one plane. Ibarat misalnya ditawarin tempat tinggal gratis beserta fasilitasnya di suatu pulau. Tempatnya indah banget, ga ramai, ga pengap dan ga macet pastinya kalo mau berpergian. Hidupnya udah terjamin banget deh. Tapi masalahnya, kita ngga tau gimana cara kesananya karena yang ada hanyalah peta buta. Salah naik transportasi, bisa nyasar. Makanya sebelum berangkat, perlu persiapan matang. Ga cuman fisik, mental kita juga harus siap buat berlabuh kesana. Walaupun metafora tadi agak aneh, tapi bisa nyambung sih :p Sebelum nekat ambil resiko, kumpulin dulu informasi dan wawasan biar kita ngga nyasar. Bulatkan mental dan komitmen kita. Jangan udah terlanjur susah-susah kesana, tapi di tengah perjalanan minta pulang lagi karena ga sanggup dan merasa lelah. Caranya yaitu dengan mencari berbagai pengalaman dan curi ilmu dari senior. Jangan lupa minta nasihat. Senior disini bukan hanya berarti kakak kelas ya. Siapapun yang sudah berpengalaman bisa kita anggap senior, karena artinya ia lebih dulu ‘menjadi orang’ dibandingkan kita. So, keep figthing and win the island (lol)! J

0

MasyaAllah..

Posted by Rizka on 00.14
Ya Allah.. sedih ngeliat comment seorang bapak di page notes yot :(
Lagi buka twitter, scroll timeline terus iseng ngeklik tweet @YoungOnTop di bawah ini :








Ketika ngeklik, kemudian baca dan nge-scroll sampai bagian comment-nya. Notes itu di-publish tanggal 24 Agustus 2013. Hanya ada satu comment disitu..


Sedih dan kaget bacanya. Di samping itu benar atau tidak, LAGI kita harus melihat seseorang 'mempromosikan' salah satu organ penting yang Allah berikan. Waktu itu yang saya lihat yaitu foto seorang anak dan bapak di bundaran HI yang membawa papan bertuliskan bahwa ia ingin menjual ginjalnya demi menebus ijazah putrinya. MasyaAllah :( :(


0

Live with passion

Posted by Rizka on 18.10
Tinggal beberapa hari lagi harus say goodbye ke tahun 2013. Kembali bertanya ke dalam diri, 2013 udah ngapain aja lo Riz? Gimana hasilnya?

Well, emang banyak hal yang menjadi kesibukan saya di awal-awal 2013. Pada saat itu saya memiliki sebuah resolusi yang sampai-saat-ini-belum-terealisasikan. Setelah masuk semester 5, kegiatan organisasi di kampus pun saya kurangin untuk memulai hal-hal yang baru demi memantapkan makna passion bagi diri sendiri. Tawaran-tawaran dari teman untuk menjadi koor kepanitian dengan berat hati tidak saya ambil. Ini saatnya mencari ilmu dan wawasan sebanyak-banyaknya dari dunia luar (baca : di luar kampus). Salah dua caranya yaitu dengan mengikuti berbagai seminar dan workshop, serta menjadi seorang freelance. It's good to meet new people.

Walaupun resolusi 2013 ini belum tercapai, at least saya sudah berusaha untuk mengerucuti hidup ini ke arah dimana passion saya mengalir. I wish it gonna be REAL someday, yes someday, SOON!!

So, let's we live with passion ;)

0

Learn Something Everyday

Posted by Rizka on 05.49
Assalamualaikum Bloggies J

Lagi-lagi mau nulis yang entah itu penting atau engga. Firstly, udah hampir 3 tahun ini selama kuliah di @UBcampus saya menjadi penumpang setia transportasi umum Jakarta-Bekasi-Bogor. Ngga sedikit kejadian atau hal-hal kecil selama di perjalanan panjang itu saya alami. Waktu awal-awal jadi penumpang setia Kopaja, tempat duduk favorit saya yaitu di samping supir. (don’t be negative thinking). Selain merasa lebih aman dan kemungkinan akan nyasarnya jadi lebih sedikit, saya bisa mendengarkan opini supir mengenai sistem transportasi dan keluh kesahnya hidup di Ibu Kota.

Menunggu bis kota yang belum pasti akan datang, sudah menjadi santapan jika saya harus pulang dari kampus lewat maghrib. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana rasanya tukang ojek yang setiap hari harus menunggu customer-nya yang belum tentu ia dapat. Belum lagi, harus bersaing dengan belasan tukang ojek lainnya. Misalnya di pinggir terminal bayangan Jatibening , pertigaan Super Indo dan pertigaan Pasar Rebo. Baru saja turun dari kendaraan umum, pasti kita langsung disambut oleh bapak-bapak ojek tersebut. Tapi percayalah, Allah itu adil. Setiap orang sudah memiliki jatah rezekinya masing-masing J

Berada di dalam bis dan sedang menunggu bis merupakan momen dimana kita bisa saling bercerita dengan pengguna transportasi umum lainnya. Pernah suatu kali ketika sedang dalam perjalanan ke kampus, ada seorang Ibu yang baru naik bis dari Terminal Jatibening. Ibu tersebut duduk di samping saya. Seperti biasa, beberapa km setelah terminal itu, kendaraan-kendaraan sudah rapih mengantri untuk masuk Tol Halim. Ibu itu kemudian mengeluarkan sarapannya yang berupa pisang dan roti. Ia bercerita kalau Ia sedang kesal dengan suaminya. Lagi-lagi ada sepetik pelajaran yang bisa saya telan. Kali ini it’s about household life he he. Ia kecewa dengan suaminya yang menurutnya tidak bisa menghargai jerih payahnya. Katanya; “udah masak cape-cape, dibilang ngga enak sama suami. Udah mending masih sempet dimasakin.”  Ya memang, Ibu tersebut merupakan karyawan perusahaan swasta sekaligus Ibu rumah tangga. Sama seperti Ibu saya. Pergi pagi pulang malam untuk membantu suami menafkahi keluarga. Sebelum pergi ke kantor, masak untuk bekal anak dan suami. Setelah pulang dari kantor, beberes rumah dan kembali menyiapkan perlengkapan bahan untuk masak esok harinya. Belum lagi kalau ada PR dari kantor. How cool my mom is!! How cool they are. Ibu itu terus bercerita tentang kehidupan rumah tangganya. Sampai ending ia cerita pun, bis kami pun belum juga berjalan jauh. Tol dalkot memang luar biasa macetnya.  So pelajaran hari itu, untuk yang sekian kalinya saya sangat sangat bersyukur kepada Allah yang Maha Penyayang. I have a great and awesome  father! Walaupun lelah sepulang dari kantor, ia masih mau untuk membantu Ibu merapihkan rumah. My mom and father are really extraordinary <3 o:p="">

Copyright © 2009 Cogito Ergo Sum All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.