0

[story] Manusia Gua

Posted by Rizka on 18.14

Suatu hari, hiduplah seorang manusia di dalam gua yang sangat gelap. Gelap secara literal, nggak ada cahaya apa pun di dalam gua itu. Manusia ini nggak pernah liat cahaya sekali pun. Dari lahir. Tapi hidupnya bahagia. Nggak ada alasan baginya untuk nggak bahagia. Sejalan dengan : “You never miss what you never have”, manusia ini nggak pernah merindukan cahaya, karena ya, emang nggak pernah tau apa itu cahaya. Dunianya berubah ketika suatu saat…

…ia menemukan sekotak korek api.
Pertemuannya dengan korek api adalah pengalaman pertamanya dengan cahaya. It fascinates him a lot! Dalam sekejap ia yakin dalam hatinya, “Korek api adalah cahaya paling terang dalam hidupku” dan ia jatuh cinta padanya. Api-api korek tersebut nyaris nggak bisa dipake buat nerangin apa pun. Tapi buatnya cahaya tersebut adalah yang paling terang dalam hidupnya.

But it doesnt last long. Setiap saat ia ingin korek api bercahaya, semakin sedikit jumlah batang yang tersisa. Dan bila ia ingin korek api bercahaya lebih terang, ia harus menggunakan lebih dari satu batang korek api. Tak lama kemudian cahaya tersebut habis dan ia kembali ke dalam kegelapannya. Kegelapan yang sama yang dulu ia jalani selama bertahun-tahun. Tapi kegelapan kali ini rasanya beda. Rasanya…

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Hari-hari kini berlalu dengan rasa benci.
“Kenapa korek api harus hadir dalam hidup gue?”
“Kenapa nggak biarin gue sendirian dalam kegelapan gue?”
“Kenapa kasih gue cahaya kalo cuma sesingkat itu?”

Until one day dia bertemu dengan lilin. Lilin lebih terang dari korek. Lilin bertahan jauh lebih lama dibanding korek. Dalam sekejap ia jatuh cinta pada lilin, cahaya paling terang dalam hidupnya.

Suatu hari ia berpikir, “Aku ingin lebih dekat lagi dengan lilin!” Maka ia membawa lilin berjalan-jalan ke dalam guanya. Tapi di tengah perjalanan, ia terkena tetesan cairan lilin yang panas sehingga kulitnya terluka. Ia marah. Ia kecewa. Manusia ini nggak bisa terima kenyataan bahwa memang begitulah sifat lilin. Dan ia pergi meninggalkan lilin tersebut. Kembali ke kegelapannya.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Hari-hari kini kembali berlalu dengan rasa benci.
“Kenapa lilin harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya kalo cuma buat sakitin gue?”

Hari-hari tersebut berakhir begitu ia bertemu dengan sebuah cahaya yang jauh lebih terang, sebuah obor. Obor lebih terang dari lilin. Obor bertahan jauh lebih lama dibanding lilin. Obor jauh lebih mudah dibawa-bawa dibanding lilin. Dan kali ini ia sudah belajar menerima sifat panas obor tersebut. Dalam sekejap ia jatuh cinta pada obor, cahaya paling terang dalam hidupnya.

Tapi lama-kelamaan cahaya obor semakin meredup. Obor butuh minyak untuk bisa tetap menyala terang. Jika tidak ada minyak yang bisa dibakar, maka kain dan kayunya sendirilah yang akan terbakar. Manusia ini tidak bisa terima kenyataan bahwa obor butuh minyak untuk bercahaya. Maka lalu ia pergi meninggalkan obor tersebut. Kembali ke kegelapannya.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Kembali ditemani rasa benci yang mulai terasa familiar.
“Kenapa obor harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya kalo akhirannya minta minyak sebagai balasan?”
“Cahaya itu hak semua orang! Hak gue! Sewajarnya kalo obor kasih gue cahaya.”
“Gue nggak butuh cahaya yang nggak tulus kayak gitu.”
Dan ia mengutuk setiap cahaya yang pernah datang dalam hidupnya.

“Adakah cahaya yang sejati dalam dunia ini?”

Ia pikir jawabannya tiba saat ia bertemu dengan sebuah cahaya yang luar biasa, sebuah api unggun. Api unggun jauh lebih besar dan terang dari semua yang pernah ia temui. Api unggun jauh lebih hangat dari semua yang pernah ia temui. Seisi gua terang dan hangat karena kehadirannya. Kali ini ia mengerti dan rela memberikan kayu agar api unggun bisa bercahaya lebih terang. Begitu banyak manusia gua lain berkumpul di sekitarnya dan mereka semua mendapat cahaya dan kehangatan yang sama persis – sama rata, tidak perduli di sebelah mana mereka duduk.

Ia jatuh cinta. “Inilah cahaya paling terang dan hangat dalam hidupku. Akhir dari pencarianku. Nggak mungkin ada yang lebih terang dari ini.” Ia menginginkan api unggun untuk dirinya sendiri. Ia ingin membawa api unggun masuk ke dalam guanya sendiri tapi api unggun tak ingin beranjak. Ia ingin menikmati api unggun sendiri, tapi manusia gua lainnya terlalu banyak untuk ia usir. Ia kelelahan dan akhirnya menyerah. Kembali ke kegelapan.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Kembali ditemani rasa benci yang kini sangat familiar.
“Kenapa api unggun harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya sebesar itu buat gue?”
“Kenapa dia harus sehangat itu sama gue?”
“Bukannya itu namanya memberi harapan? Ke banyak orang?”
“Gue juga butuh cahaya, gue butuh diperhatiin! Gue! Gue! Orang lain nggak usah karena hidup mereka lebih bahagia dari gue. GUE!”
Dan ia mengutuk setiap cahaya yang pernah datang dalam hidupnya. Plus setiap manusia gua yang dulu ikut mengerubungi api unggun bersamanya.

Kali ini hari-hari tanpa cahaya lebih panjang dari sebelumnya. Banyak cahaya mampir dalam kehidupannya tapi ia membuang mereka semua karena : cahaya-cahaya itu bukan cahaya yang paling terang dalam hidupnya. “Di mana cahaya paling terang dalam hidupku?” hanya itu yang ia tanyakan setiap hari. Suatu hari ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang radikal, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, sesuatu yang sangat ia benci dari dulu. Karena pikirnya, hidup gue udah berantakan, nggak mungkin bisa lebih berantakan lagi, jadi nggak ada salahnya.

Ia… keluar dari guanya.

Betapa ia terperanjat dan jantungnya berdegup kencang saat untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat cahaya yang baru. Semua manusia menikmati cahaya ini! Yang sangat terang! Yang sangat hangat! Yang berlangsung berjam-jam! Yang tidak menyakiti dirinya! Tanpa perlu minyak! Tak perlu dibawa ke mana-mana karena cahaya itu ada di mana-mana! Tidak ada yang membahas apakah cahayaku lebih terang dari cahayamu. Dan tidak ada yang memperebutkan cahaya itu karena semua menerimanya.

Cahaya itu adalah matahari.

Matahari sangat besar. Paling besar. Ia percaya tidak ada yang lebih besar dari matahari. Matahari sangat jauh. Begitu jauhnya hingga ia tak pernah tahu bentuk matahari itu. Tapi baginya itu tak masalah, karena ia bisa rasakan cahaya dan hangatnya. Ia jatuh cinta kepada matahari. Cinta yang jauh lebih kuat dari semua cinta yang pernah ia alami. Karena matahari adalah cahaya paling terang dalam hidupnya dan ia percaya tidak ada lagi cahaya yang lebih terang darinya.

Lalu malam tiba. Kegelapan menyapanya. Perasaan yang dulu familiar mengetuk pintunya.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Ia bertanya-tanya. Di mana cahaya itu? Yang paling besar? Yang paling hangat? Di mana? Aku tidak melihatnya! Hampir ia mengutuknya saat suatu ketika, seseorang melintas dan melihat ia meringkuk di dalam kegelapan.

Ia memberi si manusia gua sekotak korek api.

Lalu datang manusia lain memberi ia lilin. Dengan korek tadi ia menghidupkan lilin tersebut.

Lalu datang manusia lain memberi ia kain, kayu dan minyak. Dibantu cahaya lilin ia membuat obor.

Lalu datang manusia lain yang juga punya obor. Bersama-sama mereka mencari kayu di hutan. Ia lalu membuat api unggun.

Api unggunnya begitu besar, terang dan hangat. Begitu banyak orang lain yang mengutuk malam datang berkumpul mendekatinya untuk menghangatkan diri bersamanya. Dan mereka semua berbahagia. Bersama-sama mereka melewati malam yang tadi menjadi objek sumpah serapah, hingga siang tiba. Bersama-sama mereka saling belajar, saling mengajar sehingga mereka mengerti. Bahwa selalu ada siang sehabis malam dan akan selalu ada malam sehabis siang. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di malam berikutnya, menghangatkan diri bersama-sama hingga siang kembali tiba.

Menatapi abu dan arang api unggunnya, di tengah sinar fajar, manusia gua mengerti sebuah pelajaran tentang hidupnya. Untuk menghargai cahaya yang paling redup, temukanlah dahulu cahaya yang paling terang. Untuk menghargai kehangatan yang paling kecil, temukanlah dulu kehangatan yang paling besar.

THE END

_________________________________________________________________________

copy from other blogger


0

7 TIPS MENGHILANGKAN RASA MALU

Posted by Rizka on 01.36
Rasa malu adalah sebuah kombinasi dari kegugupan sosial dan pengkondisian sosial. Untuk mengatasi rasa malu ini, yang Anda butuhkan adalah belajar bersikap rileks dalam pergaulan sosial. Dibutuhkan usaha untuk mengarahkan diri Anda jauh dari terlalu berpusat pada diri sendiri, serta memberi diri Anda ruang untuk mempraktekan kemampuan bercakap-cakap. Dalam kebanyakan kasus, emosi yang memuncak dalam bersosialisasi membuat orang menanggapi berbagai kejadian dengan rasa takut. Untuk memulai mengurangi rasa malu, bagi Anda yang pemalu, ada beberapa hal di bawah ini yang mungkin dapat Anda praktekan.

1. Pikirkan tentang cara Anda merasa dan bertindak di sekitar orang-orang yang telah Anda kenal, dimana Anda bisa merasa nyaman dan bersikap spontan. Alihkan perasaan itu saat Anda bertemu kenalan baru, begitu pula dalam situasi yang membuat rasa percaya diri Anda memudar.

2. Hindari terlalu memperhatikan diri Anda sendiri. Tentu saja, Anda boleh sedikit memikirkan tentang bagaimana Anda akan melewatkan perbicangan dengan orang banyak, tapi jika seluruh fokus Anda tercurah pada kata-kata sendiri dan perasaan Anda, selanjutnya Anda akan mulai merasa gugup sendiri. Ingat-ingat apa yang dikenakan oleh orang lain dan buat catatan tersendiri, dengarkan apa yang mereka perbincangkan, bayangkan dimana mereka tinggal, buat sebuah garis besar atau ingat-ingat nama mereka. Hal ini bukan hanya memberi Anda bahan perbincangan, tapi juga mencairkan ketegangan dalam bersosialisasi dan membuat perasaan Anda lebih tenang.

3. Buat pertanyaan terbuka pada semua orang. Banyak orang yang lebih senang bicara tentang diri mereka sendiri, dan temukan sebuah topik yang membuat orang lain tertarik. Apa yang membuat mereka tertarik akan membuat perbicangan berjalan menyenangkan bagi semua orang. Selalu ajukan pertanyaan yang memungkinkan jawaban lebih dari ya/tidak.

4. Berhentilah percaya pada imajinasi Anda. Mungkin Anda pernah membuat gambaran tentang sebuah liburan yang menyenangkan dan pada kenyataanya jauh berbeda dari yang Anda bayangkan. Itu menunjukan beatapa tak dapat dipercayanya bayangan kita sendiri. Berhentilah memikirkan apa yang dipikirkan orang lain, karena apa yang dipikiran orang lain tentang Anda, belum tentu sama persis seperti bayangan Anda

5. Berhentilah memikirkan 'segalanya atau bukan apa-apa.' Pemikiran 'pasti begini/pasti begitu' tertuang saat Anda mengalami emosi. Orang-orang yang sedang depresi, marah dan gelisah melihat kenyataan dari hal-hal ini dengan perbedaan yang ektrim. Bagi orang yang sedang marah 'Anda salah' dan 'mereka benar,' orang yang marah akan melihat dirinya 'gagal', sedang yang lain 'berhasil.' Jadi berhentilah berpikir kalau Anda mungkin telah mengatakan hal yang salah, atau orang lain akan membenci Anda. Saat Anda merasa rileks dalam pergaulan sosial, Anda juga akan mendapat lebih sedikit peringatan dari diri sendiri, karena dalam keadaan gugup, biasanya Anda akan mulai berpikir tentang segalanya atau bukan apa-apa.

6. Nikmati waktu Anda. Hindari mengatakan hal-hal tanpa berpikir terlebih dulu. Ajukan pertanyaan, dan jika mendapat pertanyaan. Anda dapat mempertimbangkan jawaban terlebih dahulu sebagai tanggapan Anda, jangan asal menjawab tanpa berpikir. Jawaban yang diluncurkan dengan perlahan merupakan cara bersikap santai.

7. Akhirnya, gunakan latihan hipnotis. Hipnotis merupakan cara tercepat untuk mengubah tanggapan instink/emosi Anda dalam setiap situasi. Hanya pikirkan bahwa pikiran dan tubuh Anda dalam keadaan rilek sewaktu bertemu orang baru. Sebenarnya, sewaktu Anda merasa santai seringkali Anda akan menemukan saat yang tepat untuk menerapkan hipnotis agar merasa lebih percaya dirisaat berhadapan dengan orang-orang baru, dan tentu saja pada titik ini rasa malu akan tersingkir dengan sendirinya.



Copy from here

Copyright © 2009 Cogito Ergo Sum All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.