0

Live with passion

Posted by Rizka on 18.10
Tinggal beberapa hari lagi harus say goodbye ke tahun 2013. Kembali bertanya ke dalam diri, 2013 udah ngapain aja lo Riz? Gimana hasilnya?

Well, emang banyak hal yang menjadi kesibukan saya di awal-awal 2013. Pada saat itu saya memiliki sebuah resolusi yang sampai-saat-ini-belum-terealisasikan. Setelah masuk semester 5, kegiatan organisasi di kampus pun saya kurangin untuk memulai hal-hal yang baru demi memantapkan makna passion bagi diri sendiri. Tawaran-tawaran dari teman untuk menjadi koor kepanitian dengan berat hati tidak saya ambil. Ini saatnya mencari ilmu dan wawasan sebanyak-banyaknya dari dunia luar (baca : di luar kampus). Salah dua caranya yaitu dengan mengikuti berbagai seminar dan workshop, serta menjadi seorang freelance. It's good to meet new people.

Walaupun resolusi 2013 ini belum tercapai, at least saya sudah berusaha untuk mengerucuti hidup ini ke arah dimana passion saya mengalir. I wish it gonna be REAL someday, yes someday, SOON!!

So, let's we live with passion ;)

0

Learn Something Everyday

Posted by Rizka on 05.49
Assalamualaikum Bloggies J

Lagi-lagi mau nulis yang entah itu penting atau engga. Firstly, udah hampir 3 tahun ini selama kuliah di @UBcampus saya menjadi penumpang setia transportasi umum Jakarta-Bekasi-Bogor. Ngga sedikit kejadian atau hal-hal kecil selama di perjalanan panjang itu saya alami. Waktu awal-awal jadi penumpang setia Kopaja, tempat duduk favorit saya yaitu di samping supir. (don’t be negative thinking). Selain merasa lebih aman dan kemungkinan akan nyasarnya jadi lebih sedikit, saya bisa mendengarkan opini supir mengenai sistem transportasi dan keluh kesahnya hidup di Ibu Kota.

Menunggu bis kota yang belum pasti akan datang, sudah menjadi santapan jika saya harus pulang dari kampus lewat maghrib. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana rasanya tukang ojek yang setiap hari harus menunggu customer-nya yang belum tentu ia dapat. Belum lagi, harus bersaing dengan belasan tukang ojek lainnya. Misalnya di pinggir terminal bayangan Jatibening , pertigaan Super Indo dan pertigaan Pasar Rebo. Baru saja turun dari kendaraan umum, pasti kita langsung disambut oleh bapak-bapak ojek tersebut. Tapi percayalah, Allah itu adil. Setiap orang sudah memiliki jatah rezekinya masing-masing J

Berada di dalam bis dan sedang menunggu bis merupakan momen dimana kita bisa saling bercerita dengan pengguna transportasi umum lainnya. Pernah suatu kali ketika sedang dalam perjalanan ke kampus, ada seorang Ibu yang baru naik bis dari Terminal Jatibening. Ibu tersebut duduk di samping saya. Seperti biasa, beberapa km setelah terminal itu, kendaraan-kendaraan sudah rapih mengantri untuk masuk Tol Halim. Ibu itu kemudian mengeluarkan sarapannya yang berupa pisang dan roti. Ia bercerita kalau Ia sedang kesal dengan suaminya. Lagi-lagi ada sepetik pelajaran yang bisa saya telan. Kali ini it’s about household life he he. Ia kecewa dengan suaminya yang menurutnya tidak bisa menghargai jerih payahnya. Katanya; “udah masak cape-cape, dibilang ngga enak sama suami. Udah mending masih sempet dimasakin.”  Ya memang, Ibu tersebut merupakan karyawan perusahaan swasta sekaligus Ibu rumah tangga. Sama seperti Ibu saya. Pergi pagi pulang malam untuk membantu suami menafkahi keluarga. Sebelum pergi ke kantor, masak untuk bekal anak dan suami. Setelah pulang dari kantor, beberes rumah dan kembali menyiapkan perlengkapan bahan untuk masak esok harinya. Belum lagi kalau ada PR dari kantor. How cool my mom is!! How cool they are. Ibu itu terus bercerita tentang kehidupan rumah tangganya. Sampai ending ia cerita pun, bis kami pun belum juga berjalan jauh. Tol dalkot memang luar biasa macetnya.  So pelajaran hari itu, untuk yang sekian kalinya saya sangat sangat bersyukur kepada Allah yang Maha Penyayang. I have a great and awesome  father! Walaupun lelah sepulang dari kantor, ia masih mau untuk membantu Ibu merapihkan rumah. My mom and father are really extraordinary <3 o:p="">

0

Masih Pantaskah Identitas sebagai Negara Agraris Melekat pada Bangsa Kita?

Posted by Rizka on 17.04
Menurut Koenta Wibisono (2005) pengertian Identitas Nasional pada hakikatnya adalah “manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nasion) dengan ciri-ciri khas, dan dengan yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.”  Unsur yang membentuk identitas nasional yaitu; suku bangsa, agama, budaya dan wilayah geografis.  Berdasarkan pengertian identitas nasional, bisa dikatakan Indonesia memiliki lebih dari satu macam identitas karena melengkapi unsur-unsur pembentuk identitas nasional tersebut. Pertama, jika dilihat dari suku bangsa, Indonesia memiliki banyak suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang dari 300 suku bangsa. Kedua, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religious dimana terdapat banyak jenis agama seperti Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Ketiga, Indonesia pun memiliki banyak macam kebudayaan seperti batik, wayang, keris, angklung dan lain sebagainya. Walaupun bermacam-macam suku bangsa, agama dan budayanya, rakyat Indonesia memiliki sikap toleransi yang begitu tinggi karena memegang semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan ini ditulis di atas pita yang dicengkram oleh Garuda sebagai lambang negara Indonesia. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950 (referensi : Wikipedia). Dan yang terakhir adalah unsur wilayah geografis. ‘Dahulu’ Indonesia dikenal oleh dunia sebagai negara agraris karena memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani.  Dalam tulisan ini akan dibahas selanjutnya tentang pernyataan bahwa Indonesia adalah negara agraris.

Semenjak sekolah dasar kita diajarkan tentang identitas masing-masing dari berbagai negara, termasuk negara kita sendiri tentunya. Keanekaragaman membuat Indonesia memiliki lebih dari satu macam identitas, salah satu contohnya adalah; Indonesia disebut sebagai Negara Agraris. Sebagai negara agraris, sepatutnya Indonesia menyediakan suplai hasil pertanian untuk negara non-agraris yang membutuhkan. Namun realita menunjukkan hal yang jauh menyimpang. Ternyata masyarakat Indonesia sendiri pun masih banyak yang keterbatasan bahkan kekurangan pangan. Padahal  Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah. Pengolahan, pengaturan dan pendistribusian hasil pangan pun telah di-handle oleh pihak yang berwenang, yang dalam hal ini adalah pemerintah.  Namun mengapa masih sering terlihat rakyat yang kelaparan di negara kita? Siapa yang patutnya disalahkan? Apakah memang sepenuhnya tanggung jawab sebuah pihak?

Negara belum bisa memenuhi kebutuhan pangan untuk rakyatnynya sendiri. Masih banyak rakyatnya yang kelaparan. Di ibu kota, Jakarta yang adalah kota metropolitan pun masih terlihat banyak rakyatnya yang kelaparan. Bahkan pernah ada seorang pemulung di kolong tol Tangerang meninggal akibat kelaparan.  Bukan karena fakta bahwa Jakarta hanya memiliki sedikit lahan untuk dijadikan sawah ataupun kebun untuk menanam bahan pangan. Jika memang bahan pangan didistribusikan dengan baik, tidak akan ada rakyat Indonesia yang kelaparan. Jadi, ini masalah pendistribusian bahan pangan? Tidak juga. Di daerah yang ‘sebenarnya’ kaya akan sumber daya alam sering tersimak bahwa masih ada rakyatnya yang kelaparan seperti yang terjadi di Papua. Mengapa hal ini acapkali terjadi di negara kita, negara agraris?

Ironis memang melihat liputan-liputan para reporter yang ditampilkan dalam acara berita di berbagai macam stasiun televisi. Liputan tentang Indonesia kekurangan bahan pangan sehingga harus mengimpornya dari negara lain. Bahkan beras pun yang menjadi bahan pangan pokok masyarakat negara juga termasuk dalam list bahan pangan yang harus diimpor. Salah satu negara yang menjadi tujuan impor beras adalah Thailand. Thailand merupakan negara agraris penghasil beras. Padalah jika dibandingkan, lahan Indonesia lebih luas daripada lahan yang dimiliki Thailand.

Sesungguhnya Indonesia bisa menjadi pemasok bahan pangan untuk dunia, lantaran memiliki lahan yang luas. Tidak hanya lahan, Indonesia memiliki potensi yang mendukung aktivitas pertanian seperti tanah yang subur dan iklim tropis. Pengaturannya pun telah dihandle oleh pemerintah. Lagi-lagi, pertanyaan mengapa selalu melintas. Harus diakui, petani-petani yang dapat disebut sebagai bagian dari pahlawan bahan pangan kurang diperhatikan oleh pemerintah. Proses  pembibitan, penanaman, sampai pemupukan tanaman bahan pangan saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan jaminan kesejahteraan untuk petani itu sendiri. Lantaslah penghasilan bahan pangan tidak tersedia dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, apalagi untuk ekspor sehingga Indonesia bisa dilihat betul oleh dunia sebagai negara agraris.

Berdasarkan data BPS, selama semester I 2011 (Januari-Juni), Indonesia telah mengimpor bahan pangan, baik mentah maupun olahan, senilai 5,36 milliar dollar AS atau sekitar 45 triliun rupiah dengan volume impor mencapai 11,33 juta ton. BPS mencatat, Indonesia mengimpor sedikitnya 28 komoditi pangan mulai dari beras, jagung, kedelai, gandum,terigu, gula pasir, gula tebu, daging sapi, daging ayam, mentega, minyak goreng, susu, bawang merah, bawang putih, telur,kelapa, kelapa sawit, lada, teh,kopi, cengkeh, kakao, cabai segar dingin, cabai kering tumbuk, cabai awet, tembakau dan bahkan singkong alias ubi kayu juga diimpor. (sumber : ekonomi kompasiana.com)

Ahsan, seorang pedagang sembako di Pasar Jambu Dua, Bogor mengatakan bahwa harga sembako meningkat karena pemasokan barang yang kurang. Menurutnya, harga bahan sembako yang berasal dari Indonesia lebih tinggi daripada barang yang di-impor. Bawang misalnya, sebagian besar bawang yang terdapat di pasaran saat ini adalah bawang impor dari Cina. Harganya pun lebih murah daripada bawang dari negara sendiri. Ia memberi saran agar pemerintah melihat dan memperhatikannya tanah sehingga kualitas dan jumlah sembako bisa memenuhi kebutuhan pasar. (see more in my team's project:  http://indonesiamysoul.blogspot.com/2011/11/masih-pantaskah-identitas-sebagai.html )


Jika dilihat dari nilai impor komoditi pangan yang begitu tinggi, dapat dikatakan Indonesia sebagai negara agraris belum bisa mengambil kedaulatan pangan untuk rakyatnya. Ironis memang.  Namun itulah kenyataannya.  Banyak lulusan mahasiswa bahkan sampai professor ahli pertanian di Indonesia yang sepatutnya terlibat dan berkecimplung pada aktivitas pertanian. Dengan begitu pertanian di Indonesia akan berjalan lancar. Dan sekiranya pemerintah menaruh perhatian yang lebih serta memaksimalisasikan aktivitas pertanian termasuk para penggerak yang terlibat didalamnya, tidak akan lagi terdengar di media bahwa “Indonesia, negara agraris pengimpor bahan pangan”.

0

Two days

Posted by Rizka on 20.39
This two days me feelin pretty overexhausted, thought it's all because the road that spend my time, energy (and money). But finally paid my long-wonder for breaking dawn part II this day after 'berhedon' loss some stress at inul vizta.. As yesterday, went across torrential rains from campus till home during 3 hours.. TransJakarta, then by my dearest motorcycle that takes nearly 40km every day.. Arrived home, took a shower and did the late-lunch, then tryin to refreshing with television after sent some email to my team for preparing the next event. Not at long, finally fell asleep while american music awards passed off..
And today, didn't hear my alarm's sound since my phone wasn't on next to me last night. Just realize that i've to do practicum (new schedule-_-) at eight a.m. Damn where's my towel.. where's my bag and so on.. Finally get those all and depart soon. TransJ was extremely crowded (as usual), thought it was fabulously because these carries hugely and could be called by 'mad scramble'. I got my class at 8.30 am, know it's too late and Pak Jay just 'ckckck' and 'geleng-geleng' to me.. Get my seat soon and nothing to do because still worn out at that moment. Then Pak Jay close to me and he said that today wasn't my schedule practicum, i got Saturday for this -____- Should i still at home and lying with my bed huftt.. Went to sevel to bought a drink and give some food to my famished tummy in mcd. #postingliveinmcd

0

#campuslife #midexam #enjoy

Posted by Rizka on 08.19
Hellow.. Wanna share a piece of my feeling today.. I smell something changes of campus life lately.
Yes it's all because I've been a 'kupu-kupu' in the course of Mid.Exam weeks.
Kuliah pulang kuliah pulang. Ain't the same as the others, I couldn't study in a group.
Therefore it takes own place and time for myself. 
Pless, campus to home spend at least two or more my precious time. Hella street-_-

My mid.test schedule still one subject left. Tomorrow it'll be DOX! Design of Experiment.
The matter is kinda of looong.. nope.. it's absolutely like dozen of meter tho.
Wish end up complacently and hurries plsss...

Yet there are waiting-bunch of anothers after mid.test, it's simply this..
when i was trying to choose which appointment i've to deal for tomorrow..
because the both is extremely urgent. Had enough postpone much things during these couple weeks.
Suddenly my slighted-phone was tinkling, nd read word by word.
'congrats u'd to be coordinator, please attend on the 1st meeting tomorrow after practicum'
Nah one more my pulled one's weight..
Promise i'll do the best in every single movement.
Enjoy and have fun~~ Learning by trying Rizkaa :-))

0

flaring up

Posted by Rizka on 10.32


Okay, take a side route for couple of seconds. Just wanna flare up some of molest mind..
One, my brain keep asking me when the waited windfall gonna come?? 
Second, when i can see my dreams come true in front of my eyes and i can touch it?? 
And the last when i can meet mate? lol no no. Too far rizka :&

Back to those batch of assignment and deadline. Fighting Rizkaaaaa {}

0

Perda Number 8 Provision 40, 2007 VS UUD 1945 Provision number 34

Posted by Rizka on 16.55
Bekasi-Kuningan-Bekasi-Kuningan forces me to get the public transportation everyday. The public transportation I use are Busway, Bus and Mini bus (kopaja). It is no wonder that there are many ‘street singers’ in the public transportation that called pengamen. For the public transportation users as I, we can see oftenly the street singers start from children, a teenage, a woman/man till an old man. There are many different outlook about street singers. Most of people think, become the street singers is their livelihood to get survival. But in the different side, there are people who become the street singers is the way to conduct their talent and ability in music. It proved by Iwan Fals, Mbah Surip and Aris who won sing competition.1 Begun from being a street singer, now they are become a big and famous musician.
                Sometimes we think that the street singers unsightly, or even as the crum. Therefore, the government make a policy about the public order. It is Perda Number 8 Provision 40, 2007 which says:
Any person or entity is prohibited to;
a.    become beggars, buskers, hawkers, and cleaners car
b.   tell others to become beggars, hawkers, and cleaners car
c.    buy to hawkers or giving money or goods to beggars, buskers, and cleaners car
And for the one who prohibit the rule will liable to imprisonment for a minimum of ten days and maximum of sixty  days or fined minimum one hundred thousand rupiah and maximum twenty million rupiah.2 Then, is it the prudent regulation one? Has it work effectively?
                This regulation is not the right time to ban begger at all. There are still many segments of society that social and economic conditions worse. Therefore, the only way to get the survival life is with begging or become street singer. If they have not to do that, so where did they must to making a living from? Better if doing evaluation about this one. Suppose there are no more condition hardship and poverty, this regulation can be done.
                To succeed that regulation (Perda Number 8 Provision 40, 2007), Satpol PP did socialization public order in five regions. This socialization purpose to provide insight and understanding to the public and road users do not provide social assistance to the begger, street musicians and street vendors to buy merchandise that they sells.
                


                This regulation seems like to criminalizes the beggars and street singers. It opposite with the Provision number 34 UUD 1945 which mention “The destitute and neglected children maintained by the STATE”. So, is it means the street singers that include of destitute have to be maintained by government? The street singers and the beggars have to making a live for themselves and their family by sing inn public transportation or begging in public places. By the rough words, state couldn’t yet give the prosperity to the destitute. And now, they are prohibited to work as usual because Perda Number 8 Provision 40, 2007. Yet that regulation looked not give the big effect.  It does the government’s job to makes Jakarta as the great city and clean city of poor people. But, Perda number 8 chapter 40, 2007 doesn’t answer the problem existed. The things should to be done is to decrease the number of the destitute and improve the prosperity, not just to throw off and irresponsible with the problem existed. Government has to also provide solution beside make this regulation. Sing in the public transportation is their job to get the life, therefore how do they get the money for survive?  Then it can be called human rights violations. HAM said that every human being has the right to work, for a decent living, and home.So, if government want to forbid the street singers works, better they will be given others job. In other words, better government to provide occupation so that they aren’t become street singers.
The presence of beggars in Jakarta is the impact of a false government in dealing with poverty. Government failed to prove the existence of beggars prosperity of the people. This means that development policy is currently not succeeded in giving jobs for the people. And better that before give the policy or others regulation, should to provide solution and other way caused.

Copyright © 2009 Cogito Ergo Sum All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.